• Dia, "Awal Hidupku"


    Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu.
    Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta.
    Hati ini kembali temukan senyum yang hilang, semua itu karena dia. (Anji, “DIA”)

    Sore itu aku berjalan dengan sejuta pertanyaan di kepalaku. Apa yang kulakukan saat ini? Apakah benar yang kulakukan? Tak letih kah kau merasa disakiti? Bukankah kau tau bahwa apa yang akan kau lakukan saat ini akan membuat nganga luka dihatimu tambah lebar dan dalam? Apa kau sanggup merasa jatuh dan sakit untuk kesekian kalinya?
    Pertanyaan- pertanyaan yang berkelebat didalam otakku saat ini, namun hatiku menolak untuk memahaminya, hingga aku terus berjalan menuju tempat yang aku tahu akan memberikan ribuan kesakitan kembali. Kakiku terus melangkah menolak logikaku, hanya mengikuti perasaanku walau aku tahu aku akan tersakiti dan semakin parah.
    Ditengah perjalananku menuju kesakitan, aku bertemu dia. Dia yang memberikan senyuman terbaiknya dan mencoba untuk menjabat tanganku. Sontak aku terkejut, ternyata aku telah tiba dan aku disambut oleh orang yang tak kukenal namun ku terima jabatan tangannya tanpa kutahu bahwa ia menyebut namanya. Pertemuan yang singkat, setelah menyebut namanya ia berlalu pergi meninggalkanku dengan sejuta perdebatan dan pertanyaan dihatiku tentang apa yang akan kulakukan sesaat lagi.
    Benar, aku kembali merasakan sakit. Bodoh itulah yang terus aku katakan dikepalaku, menyesal namun apa yang terjadi tak bisa berubah. Pasrah karena kembali merasakan sakit yang berulang kali terjadi. Ditengah penyesalan dan pembodohan yang kulakukan pada diriku sendiri, dia kembali hadir. Dia yang tak hanya sekilas jabatan tangan, sebuah senyuman tipis, kini dia hadir di depanku lebih terasa nyata. Senyum itu lebih lebar dari sebelumnya, tawanya terasa lepas. Namun aku hanya dapat melihat dari kejauhan, bahkan aku tak ingat siapa namanya, bodohnya aku.
    Disudut ruangan aku mencoba menikmati kesedihan dan kebodohan yang telah aku lakukan sore ini. Walau saat ini aku berada ditengah keramaian namun hatiku terasa kosong. Saat itulah dia yang senyumnya sangat ramah kembali menyapaku.
    “ Hai, what are you doing?”
    “ Hai” , sapaku kikuk. “ngak lagi ngapa- ngapain sih”
    “ Kok ngelamun?” tanyanya.
    “ Tau darimana ngelamun? Sok tau ah” sangkalku.
    “ Keliatan kok dari matanya”
    “ Memangnya apa yang keliatan dari mataku?”
    “ Kesedihan yang dalam”.
    Tanpa basa- basi perkataannya langsung menusuk hatiku. Apa yang ada dalam pikiran pria ini? Bagaimana bisa dia dapat melihat dan fokus pada kesedihan yang sedang kurasakan?
    “ Memang keliatan banget ya?” jawabku tanpa menutup-nutupi perasaanku saat ini. Ntah mengapa aku merasa bahwa aku terlindungi saat melihat matanya dan berbicara padanya. Aku seakan bisa melampiaskan semua kesedihan dan keluh kesahku padanya.
    “ Yes, you are, mau cerita kenapa?”
    “ Memangnya mau dengerin?” tanyaku tanpa berpikir apakah ini memang yang terbaik untuk saat ini.
    “ Udah makan belom?”
    “ Udah, kenapa memang?”
    “Hmmm, kalau udah makan mau ngobrol dimana ya baiknya, biar enak”.
    “Kalau sambil ngopi aja gimana? Diwarkop di deket sini enak kok buat ngobrol”.
    “ Memangnya suka kopi?”
    “Suka dong, apalagi kopi hitam”. Ya aku memang sangat suka kopi, kopi hitam, dan aku tak pernah memilih tempat untuk dapat menikmati kopi, aku menikmati pahit kopi, setidaknya pahitnya kopi dapat menyamarkan rasa pahit dihidupku.
    “Ok kalau gitu, yuk”


    Malam itu kami habiskan dengan mengobrol di warung kopi itu, percakapan yang ntah berawal dari mana dan berujung dimana, semua terasa nikmat dan nyaman saat dibicarakan dengannya. Semua kepahitan hidup, kesedihan yang kurasakan, hanya menjadi kebodohan yang patut ditertawakan saat ku bersama dengan dia. Dia yang saat itu tak akan terpikirkan olehku bahwa akan menjadi orang yang sangat penting dalam hidupku. Orang yang akan menjadi sandaran seluruh hidupku , orang yang akan menjadi imamku, suamiku yang akan membinmbingku menjadi yang lebih baik, orang yang saat ini telah menjadi ayah dari anak perempuanku yang baru saja lahir.
    Sejak malam itu, kopi tak lagi menjadi teman dalam cerita pahitku, namun menjadi sahabat dalam kehangatan cinta dan kasih sayang dari tawa dan kegembiraan. Sekali lagi aku berteima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan DIA dalam hidupku, disaat kepahitan yang terjadi ternyata tersimpan manis yang sangat nikmat ketika kau sabar menanti dan dan menikmatiya layaknya kopi.


  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar